1. Identifikasi Mikosis kronis yang menyerang kulit dan jaringan
subkutan, biasanya pada tungkai bawah. Merembet/menjalar kejaringan
sekitarnya sangat lambat, bertahun-tahun, dengan lesi berbentuk Verukosa
besar atau kadang-kadang berupa massa berbentuk seperti kembang kol
disertai bendungan saluran limfe. Penyakit ini jarang menyebabkan
kematian. Pemeriksaan mikroskopis terhadap spesimen kerokan kulit atau
biopsi luka memperlihatkan ciri khas yaitu : sel besar, berwarna coklat,
berdinding tebal, bulat, membelah melalui pembelahan sel menjadi dua
bagian. Konfirmasi diagnosa dibuat dengan melakukan biopsi dan melakukan
kultur dari jamur. 2. Penyebab penyakit - Phialophora verrucosa,
Fonsecae (Phialophora) pedrosoi, F. compacta, Cladosporium carrionii,
Rhinocladiella aquaspersa, Botryomyces caespitatus, Exophiala spinifera
dan Exophiala jeanselmei. 3. Distribusi penyakit Tersebar diseluruh
dunia, kasus tersebar secara sporadis di daerah yang luas, terutama di
Amerika Tengah, Kepulauan Karibia, Amerika Selatan, Bagian Selatan AS,
Kepulauan Pasifik Selatan, Australia, Jepang, Madagaskar dan Afrika.
Penyakit terutama muncul di daerah pedesaan, menyerang petani yang
bertelanjang kaki di daerah tropis, mungkin karena petani sering
mengalami luka pada kaki atau bagian tubuh lain yang tidak terlindungi
oleh baju atau sepatu. Penyakit ini umum terjadi pada pria berumur 30 –
50 tahun, wanita jarang terinfeksi. 4. Reservoir - Kayu, tanah dan
tumbuhan yang membusuk. 5. Cara penularan – Masuk melalui luka, biasanya
luka sayat atu tusuk yang terkontaminasi oleh kayu atau material lain.
6. Masa inkubasi – Tidak diketahui, mungkin beberapa bulan. 7. Masa
penularan – Tidak ditularkan dari orang ke orang. 8. Kekebalan dan
kerentanan : tidak diketahui, tapi karena penyakit ini jarang terjadi
dan tidak ada orang yang terkena infeksi di laboratorium, ini
menunjukkan bahwa manusia relatif kebal terhadap penyakit ini. 9. Cara
pemberantasan A. Cara pencegahan : lindungi diri agar tidak terluka
dengan memakai sepatu atau baju.
116
B. Pengawasan penderita,
kontak dan lingkungan sekitar : 1). Laporan kepada petugas kesehatan
setempat: laporan resmi tidak diperlukan, Kelas 5 (lihat tentang
pelaporan penyakit menular). 2). Isolasi : tidak dilakukan. 3).
Disinfeksi serentak : lakukan disinfeksi terhadap discharge dari lesi
serta barang-barang yang terkontaminasi. 4). Karantina : tidak dilakukan
5). Imunisasi kontak : tidak dilakukan 6). Investigasi kontak dan
sumber infeksi : tidak di lakukan. 7). Pengobatan spesifik :
5-fluorositosin atau itrakonasol oral bermanfaat bagi sebagian
penderita. Luka besar akan memberikan respons baik jika diberikan
5-fluorositosin dikombinasi dengan amfoterisin B (Fungizone®) IV. Luka
kecil kadang-kadang disembuhkan dengan cara melakukan eksisi. C.
Tindakan penanggulangan wabah : Tidak diterapkan, karena penyakit
bersifat sporadis. D. Implikasi bencana : tidak ada. E. Tindakan
internasional : tidak ada.
hastomodjogja.blogspot.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar