Senin, 16 November 2015

brain death

MATI BATANG OTAK (MBO)
Yang dimaksud mati dewasa ini adalah mati batang otak walaupun jantung masih berdenyut dan respirasi dengan ventilator masih dipertahankan.
Dahulu definisi kematian adalah apnoe (henti nafas) dan circulatory arrest (henti sirkulasi) dimana aktivitas cerebral terhenti sebentar (reversible) masih mungkin dilakukan cardiopulmonary dan brain resusitasi kemungkinan fungsi otak kembali normal, kematian seperti ini disebut Clinical death(mati klinis).
Bila mati klinis berlanjut tanpa resusitasi akan terjadi nekrosis seluruh jaringan tubuh dimulai dari otak, disebut biological death (mati biologis).
Sedangkan sosial death (mati sosial) (persistent vegetative state)(sindroma apalika) menggambarkan kerusakan otak yang irreversible dimana pasien tetap tak sadar /tidak responsif tetapi mempunyai EEG yang masih aktif dan beberapa reflek masih utuh.
Cerebral death (mati cerebral) dimana cerebrum mengalami nekrosis terutama neocortical. Brain death (total brain death)(mati otak total) adalah mati cerebral dengan nekrosis sisa otak lainnya (cerebellum,midbrain dan brain stem).(otak kecil,otak tengah dan batang otak).
Harus dibedakan brain death dengan severe neurological dysfunction dimana masih ada menetap sedikit aktifitas otak, biasanya kita bagi dua golongan:


A. Locked in Syndrome (paralytic akinesia) - (cerebrospinal dysconection)
     Dalam keadaan ini : 
  • Mental awareness (+).
  • Cranial nerve dysfunction (+)
  • Voluntary muscle movement (-)
     Umpama : lesi medulla-pontine.
               
B. Apalic syndrome :
Depressi awareness yang dalam depressi EEG sampai isoelektrik. Fungsi brain stem masih berlangsung atau bisa ditimbulkan.
Untuk itu baik fungsi cortical maupun brainstem harus diteliti dengan kriteria yang ditetapkan dalam menentukan brain death. Yaitu yang ditetapkan oleh Presbyterian University Hospital Pittsburg.
Kriteria untuk menentukan diagnosis MBO (mati batang otak). Pasien yang diobservasi harus di rumah sakit, dengan dua kali pemeriksaan klinik dimana jarak (interval) kedua pemeriksaan tidak kurang dari dua jam dilakukan oleh minimal 2 ahli yang mendapat kompetensi (neurologist, neurosurgeon atau intensivist) bersama atau terpisah.
  • Koma dengan sebab yang ditetapkan, dan tidak adanya induced hipotermia, dan obat-obat yang bersifat depressant. Jika ada indikasi pemeriksaan ethanol darah,dan toksikologi harus dilakukan dan temperatur tubuh juga dicatat.
  • Tidak dijumpai gerakan otot spontan,tanda-tanda sikap abnormal (decerebrasi&decorticasi) atau menggigil dalam keadaan tanpa muscle relaxant (pelemas otot) atau obat sedatif.
  • Cranial reflexes & responses:(minimal lima reflex negatif).
  1. Tak ada respons reflex cahaya pupil.ini disamarkan oleh obat antikolenergik.
  2. Tak ada cornea reflex.
  3. Tak ada respons terhadap stimulus sakit yang hebat seperti tekanan pada supra orbital.
  4. Tak ada respons terhadap stimulus jalan nafas bagian atas dan bawah umpama pharyngeal atau penghisapan endotracheal.
  5. Tak ada respons okular bila telinga diirigasi dengn 50 cc air es (tak ada gerakan mata) (reflexoculovestibular). Hal ini bisa disamarkan oleh obat ototoksik,penekan vestibular.
  6. Tak ada gerakan bola mata bila kepala diputar (reflex oculocephalic).
  • Tak ada gerakan nafas spontan selama tiga menit bila ventilator dilepas dan PaCO2 > 50 Torr pada Akhir test apnoe dalam hal ini tanpa pelemas otot, tak dilakukan bila ICP tinggi. Jika pada riwayat penyakit pasien mempunyai ketergantungan pada stimulus hipoksia untuk pernafasan umpama pada penderita COPD(chronic obstructive pulmonary diseases) maka PaO2 pada akhir test harus < 50 Torr. Jadi dicatat PaO2 dan PaCO2 pada akhir test apnoe.
Test apnoe :
  1. Pre oksigenasi selama 10 menit dengan O2 100 % untuk mencegah hipoksia.
  2. Beri CO2 5% dalam 95% selama 5 menit berikutnya untuk menjamin PaCO2 awal 40 torr.
  3. Ventilator dilepas, insuflasi O2 6L/menit via kateter lewat karina.selama sepuluh menit. Untuk mencegah hipoksia, agar tak terjadi kerusakan organ.
Test ini diulang dengan selang waktu 25- 40 menit. Untuk mencegah kesalahan pengamatan.
  • Gambaran EEG yang isoelektris. Dengan minimal tehnik pencatatan yang telah ditetapkan bisa terjadi atas pengaruh sedatif encepfalitis,trauma otak atau anoksia atau hipotermia yang dalam.
  • Kegagalan menaikkan heart rate (kecepatan denyut jantung) dengan pemberian 1-2 miligram. Sulfas atropin intra vena setelah lima menit atau kenaikan tak lebih 5 x/ menit

Penetapan diagmosis MBO perlu untuk menentukan sikap kita dalam mempertahankan atau mengakhiri tindakan resusitasi gawat darurat. 
Bila diagnose MBO sudah pasti maka pasien dinyatakan meninggal dengan sertifikat kematian. Walau jantung masih berdenyut, tidak diperlukan persetujuan keluarga untuk membuat sertifikasi kematian. Tetapi bila pasien telah menyatakan dirinya sebagai donor organ sebelum kematiannya maka setelah onset braindeath resusitasi terus dilakukan sampai organ tubuh pasien dikeluarkan untuk mempertahankan keawetan organ, tetapi kontra indikasi bila dijumpai beberapa keadaan tertentu dibahas dalam management resusitasi untuk transplantasi organ.
Setelah MBO cardiac death (mati jantung) sekunder biasanya terjadi setelah 72 jam sejak MBO tetapi kadang kadang walau jarang bisa sampai satu bulan.ini karena merupakan efektor autonom yang bekerja tanpa pengaruh syaraf pusat dalam waktu terbatas.
Sikap kita ventilator dihentikan biarkan saja sampai circulasi berhenti sendiri.
Mati jantung adalah henti jantung yang irreversible dimana EKG isoelektris selama minimal 30 menit, (intractable electric asystole) walaupun terapi CPR telah optimal. Tidak ada pulsasi tetapi ada EKG complex (mechanical asystole tanpa electric asistole) bukanlah tanda irreversibelity cardiac.
Selama aktifitas EKG berlangsung kita harus bersikap bahwa masih ada waktu untuk memulihkan circulasi spontan. Sebenarnya aktifitas EKG bisa berlangsung setelah beberapa menit terjadi henti jantung tanpa resusitasi atau berjam-jam selama CPR dilakukan.
Selama CPR dengan dada tertutup tanpa monitoring EKG tak bisa dibuktikan adanya henti jantung yang irreversible oleh karena ventrikel fibrilasi mungkin ada dan ventrikel fibrilasi selalu mungkin reversible. Ada beberapa kasus ventrikel fibrilasi setelah CPR berjam-jam disertai defibrilasi pulih kembali kesadarannya.
Bila telah dilakukan CPR ditemukan sirkulasi spontan,reaksi pupil positif ,respirasi spontan, gerakan spontan ini menunjukkan adanya oksigenasi serebral.
Bila pupil tetap dilatasi tanpa reaksi,tanpa respirasi spontan selama 1-2 jam,walaupun sirkulasi spontan sudah dicapai, ini menunjukkan kerusakan otak yang hebat walaupun tidak selalu disertai mati batang otak.
Perlu diketahui pupil dilatasi /fixed bisa dijumpai diluar mati otak yaitu kontussio serebri,perdarahan intra kranial,pemberian katekolamin waktu resusitasi atau overdosis obat-obat hipnotik.
Secara kasar pasien yang sadar dalam waktu sepuluh menit sesudah sirkulasi spontan akan pulih kembali dengan fungsi otak yang normal,tetapi setelah 6-12 jam sejak sirkulasi spontan dilakukan penekanan yang kuat pada sudut mandibula, tanpa respons nyeri, tanpa Doll eyes, biasanya pasien akan menderita kerusakan otak yang permanent (Bates).
Bila fasilitas EEG,monitor gas darah tak ada maka angiografi karotid yang menunjukkan tidak ada flow intrakranial alternatif yang dapat diterima sebagai bukti adanya MBO.
Pada tahun 1988 IDI mengeluarkan pernyataan berkaitan kapan seorang dinyatakan mati.
  • Bila pernafasan spontan dan jantung telah pasti berhenti,setelah dilakukan CPR optimal.
  • Bila telah dipastikan terjadi MBO, tetapi pada CPR darurat dimana tidak mungkin menentukan MBO maka seorang dapat dinyatakan mati bila :
  1. Ditemukan tanda-tanda mati jantung.
  2. Setelah dimulai CPR pasien tetap tidak sadar, tidak muncul nafas spontan reflex muntah negatf serta pupil tetap dilatasi. Selama lebih 30 menit kecuali pasien hipotermik atau dibawah pengaruh barbiturat atau anestesi umum.
Check list untuk diagnose klinis dari brain death menurut Medical Center of Pittsburgh University dalam menerbitkan sertifikasi kematian :
I.  Tidak adanya cofounding factors
  • Tekanan darah sistolik > 90 mmHg tanpa vaso pressor dan perfusi perifer adekuat.
  • Suhu tubuh > 32 derajat C dibawah 32 C EEG bisa isoelektris.
  • Tanpa obat mendepressi CNS (anestetik,narkotik,sedatif,alkohol). Kadar sedatif tidak lebih besar dari subterapetik, kadar alkohol tak >= 100 mg %. Bila curiga lakukan test toksikologi. Tak menggunakan pelemas otot, bisa membuat apnoe atau gerakan(-). 
  • Tidak ada uremia,meningo ensefalopati,hepato ensefalopati atau metaboilik ensefalopati bila ada harus diambil EEG untuk menentukan brain death. 

II. Absen fungsi serebral dan batang otak
  • Tak ada reflex batang otak termasuk test apnoe.
  • Tak ada responsivity dan reseptivity dari serebral.
  1. Tak respons terhadap stimulus nyeri (penekanan supra orbital).
  2. Tak ada gerakan otot spontan, deserebrate rigidity atau decorticasi atau kejang.
  3. Tak ada reflex cahaya pupil(fixed) (paling penting)(takperlu dilatasi atau equal).
  4. Tak ada reflex kornea (kelemahan facial sebelumnya bisa bikin reflex kornea negatif).
  5. Tidak ada reflek batuk dan menelan (tak respons terhadap stimulus jalan nafas atas dan bawah) dengan menyedot faring atau trakea, via pipa trakeal. (test n. vagus dan glossopharyngeal)
  6. Tak ada reflex okulosefalik dengan memutar kepala arah kesisi kontralateral tidak ada gerakan bola mata, tak boleh pada fractur cervical.
  7. Tak ada reflex okulo vestibular (meninggikan kepala 30 derajat, lakukan irigasi 50 cc air es kedalam saluran telinga luar tidak ada gerakan bola mata boneka.( test labirinth).
  8. Tidak ada peningkatan denyut jantung kalaupun ada tak lebih dari lima kali menit sesudah 5 menit diberikan 0,04 mg/kg atropin iv. Sebagai test fungsi n vagus dimana atropin sebagai vagolitik. Dicatat denyut jantung sebelum dan sesudah test atropin.
  9. Apnoe pada saat PaCO2 > 60 mmHg merupakan stimulus paling kuat untuk merangsang pusat nafas.minimal 30 detik. Dicatat PaCO2 dan PaO2 pada akhir test apnoe.

III .Test untuk mengkonfirmasi diagnose brain death (Confirmatory test) evaluasi fungsi neuron atau sirkulasi darah intra kranial.
  • EEG adanya elektro serebral silence, lebih dari 30 menit. Test ini dilakukan bila ada encefalopati, penyebab koma tidak tahu atau global iskemia sudah berlangsung 24 jam atau paling sedikit satu pemeriksaan tidak dilakukan atau test apnoe tidak bisa dilakukan takut terjadi henti jantung.
  • Cerebral arteriografi (4 pembuluh darah serebral) tidak dijumpai sirkulasi darah intrakranial, test ini dilakukan. kalau pasien hipotermia berat, mendapat  CNS depressant, alkohol atau pelemas otot.

IV. Komentar : Semua hasil pemeriksaan telah memenuhi kriteria MBO walaupun jantung masih berdenyut.

Sertifikasi kematian
Setelah mempertimbangkan hasil-hasil diatas dengan ini kami menyatakan kematian atas nama, jenis kelamin, umur dan alamat, tanggal, jam, meninggal. 
Ditanda-tangani oleh dua orang dokter. Langkah selanjutnya memberi tahu keluarganya akan dihentikan bantuan hidup yang ujungnya sia-sia bukan berarti membiarkan mati. 
Bila keluarga sudah menerima tentang kematian otak maka ventilator, monitor, infus di stop dilakukan oleh petugas yang merawat, biarkan sampai jantung berhenti sendiri. Bila akan dilakukan transplantasi organ minta persetujuan tertulis dari keluarga. Bila setuju maka teruskan bantuan utama untuk mencegah injury organ.

Kontroversi MBO                                  
Ada bukti-bukti menunjukkan residual neuron function yang bisa bertahan walaupun telah dinyatakan semua kriteria telah dipenuhi untuk diagnose MBO.
Termasuk berlanjutnya produksi hormon hipofise/hipotalamus dan bertahannya suhu tubuh tetap normal walaupun pada angiografi 4 pembuluh darah serebral tidak ada tanda-tanda sirkulasi intrakranial.
Masih ada spontanous depolarisation bisa ditest dengan menempatkan elektrode lebih dalam meskipun EEG cortex isoelectric silence.
Adanya enviromental responsiveness dibuktikan dengan naiknya tekanan darah dan kecepatan denyut jantung sebagai respons pembedahan selama organ procurement diduga respons terhadap stimulus komponen extra kranial dari ANS.
Namun hal ini bisa terjadi sebab definisi MBO adalah hilangnya permanent semua fungsi neuron terpadu bukan kematian semua cell.
Ringkasan :Kriteria MBO yang digunakan sejak 1968 di Universitas Pittsburgh termasuk ketiadaan total, aktivitas serebrum dan batang otak pada dua pemeriksaan klinis dengan interval minimal dua jam,tanpa depresan CNS,pelumpuh otot dan hipotermi. Diantara dua pemeriksaan klinis dilakukan perekaman EEG dengan atau tanpa stimulasi suara,dengan pembesaran dua mikrovolt per mm menunjjukan rekaman isoelektrik selama minimal 30 menit.
Tidak terdapatnya pernafasan spontan selama 3 menit dimana PaCO2 harus >50 torr untuk penderita COPD yang memerlukan hipoksia untuk pernafasan maka PaO2<50 torr untuk ini perlu analisa gas darah.
Reflex dan respons saraf otak termasuk reflex pupil harus tak ada. Laju jantung tak boleh meningkat selama pemberian atropin iv. Semua aktivitas batang otak tidak ada kecuali aktivitas sumsum tulang karena neuron sumsum tulang belakang masih hidup setelah mati otak. Bila fasilitas EEG atau BGA tidak ada, maka angiografi untuk memastikan tidak ada perfusi intrakranial sebagai alternatif. Namun bila pemeriksaan laboratorium juga tak ada maka pemeriksaan klinis saja mencukupi.
Persetujuan keluarga tidak perlu untuk sertifikasi mati otak dan dua dokter minimal menanda-tangani sertifikat kematian pasien.

REFERENSI
  1. Safar Pieter; Cardiopulmonary Cerebral Resuscitation, Published by Asmund S. Laerdal, Stavanger,Norway,1984.
  2. Albin, Maurice : Brain death and vegetative state;Text Book of Neuroanesthesia with neurosurgical and Neuroscienceperspective,The MC Graw Hill Company, Newyork, Sanfransisco, Toronto, Sydney,1977
  3. GurningEJK; Brainstem death and Management of organ Donor, Text Book of Neuro anesthesia and Critical Care, edited by Menon K, Matta F,Greenwich Medical Media Ltd., London.2000.
  4. Grenvik et all; Cessation of theraphy in terminal illness and braindeath ;Critical Care Medicine vol.6 no.4 Augt,1978.
  5. Pernyataan IDI tentang mati, Cermin Dunia Kedokteran, no.57, 1989.
  6. Safar P, Resusitasi paru jantung otak,terjemahan IAAI Jakarta,Agust,1984.
http://ivan-atjeh.blogspot.co.id/2012/01/mati-otak-brain-death.html

Penyebab dan Defini Batuk Rejan (Pertusis)

Penyebab dan Defini Batuk Rejan (Pertusis)

batuk rejannPenyakit batuk rejan atau dalam dunia kesehatan dikenal dengan sebutan “pertusis” atau dalam bahasa inggrisWhooping Cough merupakan satu dari sekian banyak penyakit menular. Didunia terjadi sekitar 30 sampai 50 juta kasus pertahun dan menyebabkan kematian pada 300.000 kasus (dari data WHO). Penyakit ini biasanya terjadi pada anak berusia dibawah 1 tahun. 90% dan biasanya ditemukan di negara berkembang. Batuk rejan termasuk penyakit infeksi saluran pernafasan (infeksi paru-paru) yang menyebabkan sarengan batuk yang bertubi-tubi.
Batuk merupakan salah satu penyakit yang sering diderita oleh setiap orang yang sebagian besar disebabkan karena adanya masalah pada sistem pernafasan. Salah satu jenis batuk yang kerap kali menyerang anak dibawah usia 1 tahun adalah batuk rejan. jenis batuk ini merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh Bacterium Bordetella dan Bacteria Parapertussis.
Batuk rejan banyak dikenal dengan nama batuk pertusis dan bisa diderita oelh seluruh kelompik usia. Batuk jenis ini akan sangat membahayakan bila yang diserang adalah bayi berusia dibawah 1.5 tahun. Lalu apa sebenarnya batuk rejan tersebut?
Batuk akut merupakan batuk yang berlangsung lebih dari 2 minggu. Kemudian batuk kronis merupakan batuk yang bisa berlangsung lebih dari 3 bulan. Batuk kronis berulang yang kerap kali menyerang anak-anak bisa dikarenakan oleh asma, pertusis, dan juga tubercolosis. Pertusis ini merupakan batuk kronis yang dikarenakan oleh kuman yang bernama bordetella pertusis.
Batuk rejan adalah batuk yang menular dan bisa menular melalui bersin, batuk dan juga muntah yang dialami oleh si penderita. Proses dari terjadinya penularan batuk ini yaitu kuman atau bakteri penyakit yang terbang dan terhisap oleh orang lain yang berdeketan dengan si penderita. Penderita dari batuk rejan ini mayoritas adalah anak-anak berusia antara 5 hingga 13 tahun, namun tidak menutup kemungkinan individu yang berusia kurang atau lebih dari usia itu bisa terjangkit penyakit ini.
 https://pengobatanbatukrejanuntukanak.wordpress.com/2014/01/18/obat-alami-batuk-rejan-untuk-anak/

Penanganan Penyakit ISPA Berbeda Sesuai Tingkatan Usia

Pada musim pancaroba atau pergantian musim, seringkali dijumpai masyarakat mengeluhkan kondisi tubuh yang tidak sehat, batuk, pilek, dan demam. Beberapa keluhan lebih sering dikenal dengan istilah ISPA. Apa sebenarnya penyakit ISPA ini? ISPA sebenarnya merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut. Penyakit ini menyerang beberapa bagian organ saluran pernapasan yaitu hidung, sinus, faring atau laring.
Penyakit ISPA
Penyakit ISPA (Solusipengobatanherbalalami)

Gejala dan Penyebab Penyakit ISPA

Untuk mengetahui penyakit ini maka sebaiknya mengenali ciri-ciri atau gejalanya. Beberapa diantaranya adalah :
  • Badan terasa pegal atau nyeri pada sendi.
  • Adanya cairan hidung atau ingus.
  • Sering mengalami batuk.
  • Sering mengalami sakit kepala
  • Munculnya sakit pada tenggorokan yang sering membuat susah menelan dan berbicara.
Sedangkan penyebab penyakit ini biasanya dikarenakan adanya virus, bakteri atau jamur yang masuk ke dalam saluran pernapasan. Udara menjadi cara yang paling efektif bagi organisme ini untuk menginfeksi manusia. Penyakit ini juga menular dan cara penyebarannya pun melalui udara. Untuk tindakan pencegahan, sebaiknya hindari kontak fisik dengan penderita dan usahakan untuk selalu menggunakan masker jika penyakit ini sedang mewabah, khususnya di saat musim pancaroba.
http://sehatalamiku.com/penanganan-penyakit-ispa-berbeda-sesuai-tingkatan-usia/

Minggu, 15 November 2015

upaya pencegahan dan penangulangan penyakit tahun 2011

Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Tahun 2011
Upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit meliputi penyakit menular dan penyakit tidak menular. Penanggulangan penyakit menular, antara lain penanggulangan penyakit TBC mampu meningkatkan angka kesembuhan penderita TBC dari 90% menjadi 96,46%.
Penanggulangan penyakit menular Demam Berdarah (DB) melalui Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) yang telah berhasil menekan jumlah kasus Demam Berdarah Dengue dengan pola partisipasi masyarakat dengan beberapa kegiatan yaitu gerakan PSN, porselenisasi bak mandi, dan abatisasi massal selektif. Kegiatan tersebut, mampu menurunkan angka penderita demam berdarah dari 10,19 menjadi 1,9 per 10.000 penduduk. Namun demikian penyakit DB di Kota Surakarta masih perlu mendapat perhatian, mengingat angka kepadatan nyamuk baik di pemukiman maupun disekolah melebihi target angka nasional.
Upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit HIV/AIDS dilakukan melalui Puskesmas dengan pelayanan Infeksi Menular Seksual (IMS) di Puskesmas Manahan dan Sangkrah, 1 Puskesmas Voluntary Clinic Test (VCT) di Puskesmas Manahan dan 2 rumah sakit yaitu Rumah Sakit Dr. Oen dan RSUD Dr. Moewardi.
Upaya pencegahan telah dilakukan pula melalui sosialisasi bahaya HIV/AIDS kepada siswa SMA/SMK, guru SMA/SMK, PKK dan Warga Peduli AIDS di 8 (delapan) kalurahan resiko tinggi. Penemuan kasus HIV/AIDS pada tahun 2011 mengalami peningkatan, yaitu HIV sebanyak 76 kasus dari 59 kasus, dan AIDS sebanyak 125 kasus dari 105 kasus. Penemuan kasus yang meningkat menjadi keprihatinan kita bersama untuk lebih meningkatkan sosialisasi serta pencegahan penyebaran sedini mungkin.
Upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit meliputi penyakit menular dan penyakit tidak menular. Penanggulangan penyakit menular, antara lain penanggulangan penyakit TBC mampu meningkatkan angka kesembuhan penderita TBC dari 90% menjadi 96,46%.
Penanggulangan penyakit menular Demam Berdarah (DB) melalui Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) yang telah berhasil menekan jumlah kasus Demam Berdarah Dengue dengan pola partisipasi masyarakat dengan beberapa kegiatan yaitu gerakan PSN, porselenisasi bak mandi, dan abatisasi massal selektif. Kegiatan tersebut, mampu menurunkan angka penderita demam berdarah dari 10,19 menjadi 1,9 per 10.000 penduduk. Namun demikian penyakit DB di Kota Surakarta masih perlu mendapat perhatian, mengingat angka kepadatan nyamuk baik di pemukiman maupun disekolah melebihi target angka nasional.
Upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit HIV/AIDS dilakukan melalui Puskesmas dengan pelayanan Infeksi Menular Seksual (IMS) di Puskesmas Manahan dan Sangkrah, 1 Puskesmas Voluntary Clinic Test (VCT) di Puskesmas Manahan dan 2 rumah sakit yaitu Rumah Sakit Dr. Oen dan RSUD Dr. Moewardi.
Upaya pencegahan telah dilakukan pula melalui sosialisasi bahaya HIV/AIDS kepada siswa SMA/SMK, guru SMA/SMK, PKK dan Warga Peduli AIDS di 8 (delapan) kalurahan resiko tinggi. Penemuan kasus HIV/AIDS pada tahun 2011 mengalami peningkatan, yaitu HIV sebanyak 76 kasus dari 59 kasus, dan AIDS sebanyak 125 kasus dari 105 kasus. Penemuan kasus yang meningkat menjadi keprihatinan kita bersama untuk lebih meningkatkan sosialisasi serta pencegahan penyebaran sedini mungkin.
Upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit meliputi penyakit menular dan penyakit tidak menular. Penanggulangan penyakit menular, antara lain penanggulangan penyakit TBC mampu meningkatkan angka kesembuhan penderita TBC dari 90% menjadi 96,46%.
Penanggulangan penyakit menular Demam Berdarah (DB) melalui Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) yang telah berhasil menekan jumlah kasus Demam Berdarah Dengue dengan pola partisipasi masyarakat dengan beberapa kegiatan yaitu gerakan PSN, porselenisasi bak mandi, dan abatisasi massal selektif. Kegiatan tersebut, mampu menurunkan angka penderita demam berdarah dari 10,19 menjadi 1,9 per 10.000 penduduk. Namun demikian penyakit DB di Kota Surakarta masih perlu mendapat perhatian, mengingat angka kepadatan nyamuk baik di pemukiman maupun disekolah melebihi target angka nasional.
Upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit HIV/AIDS dilakukan melalui Puskesmas dengan pelayanan Infeksi Menular Seksual (IMS) di Puskesmas Manahan dan Sangkrah, 1 Puskesmas Voluntary Clinic Test (VCT) di Puskesmas Manahan dan 2 rumah sakit yaitu Rumah Sakit Dr. Oen dan RSUD Dr. Moewardi.
Upaya pencegahan telah dilakukan pula melalui sosialisasi bahaya HIV/AIDS kepada siswa SMA/SMK, guru SMA/SMK, PKK dan Warga Peduli AIDS di 8 (delapan) kalurahan resiko tinggi. Penemuan kasus HIV/AIDS pada tahun 2011 mengalami peningkatan, yaitu HIV sebanyak 76 kasus dari 59 kasus, dan AIDS sebanyak 125 kasus dari 105 kasus. Penemuan kasus yang meningkat menjadi keprihatinan kita bersama untuk lebih meningkatkan sosialisasi serta pencegahan penyebaran sedini mungkin.
http://www.surakarta.go.id/konten/upaya-pencegahan-dan-penanggulangan-penyakit-tahun-2011

PENYAKIT PARKINSON :

PENYAKIT PARKINSON :

Penyakit Parkinson, juga dikenal sebagai penyakit Parkinson, PD, agitans kelumpuhan, dan gemetar palsy adalah gangguan, secara bertahap progresif degeneratif neurologis yang biasanya merusak motor pasien keterampilan, pidato, menulis, serta beberapa fungsi lainnya. Penderita sering memiliki wajah, tetap ekspresif, tremor saat istirahat, memperlambat gerakan sukarela (bradykinesia), postur yang tidak biasa, dan kelemahan otot. Dalam kasus ekstrim ada hilangnya gerakan fisik (akinesia).
Penyakit Parkinson adalah baik kronis dan progresif. Kronis berarti jangka panjang, sementara progresif berarti secara bertahap semakin memburuk.
Parkinsonism adalah sindrom neurologis yang ditandai dengan tremor, kekakuan, instabilitas postural, dan hypokinesia (penurunan gerakan tubuh). Sindrom A adalah asosiasi fitur klinis beberapa dikenali, tanda-tanda, gejala, fenomena atau karakteristik yang sering terjadi bersama-sama. Penyakit Parkinson adalah penyebab paling umum dari Parkinsonisme. Sederhananya – Parkinsonisme termasuk tanda-tanda dan gejala yang menyerupai penyakit Parkinson.
Sementara sekitar 5% dari individu dengan penyakit Parkinson berada di bawah usia 40 tahun, mayoritas adalah lebih dari 50. Ketika tanda-tanda dan gejala berkembang dalam individu berusia antara 21 dan 40 tahun, dikenal sebagai penyakit onset muda Parkinson. Sekitar 1 dari setiap 20 pasien yang didiagnosis dengan PD adalah di bawah 40 tahun. Ketika tanda-tanda dan gejala muncul pada orang di bawah usia 18 tahun, dikenal sebagai penyakit Juvenile Parkinson. Ini mempengaruhi kedua jenis kelamin; laki-laki sedikit lebih banyak daripada perempuan.
Menurut National Institutes of Health (NIH), Amerika Serikat, sekitar 500.000 orang Amerika yang terkena penyakit Parkinson, sekitar 50.000 diagnosa baru yang dibuat setiap tahun. Pelayanan Kesehatan Nasional (NHS), Inggris, memperkirakan bahwa sekitar 120.000 orang di Inggris terkena.
Sebagai sejumlah besar pasien tua dengan gejala penyakit Parkinson awal berasumsi bahwa gejala mereka dapat membentuk bagian dari penuaan normal dan tidak mencari bantuan medis, mendapatkan statistik yang akurat mungkin mustahil. Ada juga beberapa kondisi yang berbeda yang kadang-kadang memiliki tanda dan gejala sebanding dengan PD.
PD bernama setelah James Parkinson (1755-1824), seorang ahli bedah Inggris apoteker, ahli paleontologi, geologi dan aktivis politik. Dalam karyanya yang paling terkenal Sebuah Esai tentang Cerebral Gemetar (1817), ia adalah orang pertama yang menggambarkan agitans kelumpuhan, yang akhirnya bernama setelah dia.
Penyakit Parkinson milik sekelompok kondisi yang disebut gangguan gerak. Gangguan gerak menggambarkan berbagai gerakan tubuh abnormal yang memiliki dasar neurologis, dan termasuk kondisi seperti cerebral palsy, ataksia, dan sindrom Tourette. Penyakit Parkinson hasil dari stimulasi penurunan korteks bermotor oleh ganglia basal, biasanya disebabkan oleh pembentukan cukup dan aksi dopamin.

penyakit asidosi

Cara Cepat Mengobati Asidosis Tubulus Renalis


Cara Cepat Mengobati Asidosis Tubulus Renalis dengan tuntas secara permanen dan aman tanpa efek samping, yakni menggunakan obat herbal Jelly Gamat Gold-G yang terbuat dari 100% bahan alami ekstrak teripang emas, solusi terbaik paling tepat mengatasi dan mengobati penyakit asidosis tubulus renalis dengan secara alami.

Apa sih sebenarnya penyakit asidosis tubulus renalis itu??

Cara Cepat Mengobati Asidosis Tubulus Renalis
Mendengar namanya saja mungkin anda baru pertama kali ini. Ya, asidosis tubulus renalis merupakan penyakit yang cukup asing di telinga masyarakat, penyakit asidosis tubulus renalis (ATR) atau renal tubular acidosis (RTA) adalah suatu penyakit dimana tubulus renalis tidak dapat membuang asam dari darah ke dalam air kemih secara normal, sehingga terjadi penimbunan asam dalam darah, yang mengakibatkan terjadinya asidosis, yakni tingkat keasamannya menjadi di atas ambang normal.

Meskipun penyakit asidosis tubulus renalis ini tergolong penyakit yang cukup langka, namun penyakit ini tetap perlu mendapatkan kewaspadaan, karena penyakit ini terbilang cukup berbahaya jika tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat, apalagi bila dibiarkan begitu saja, sebab penyakit asidosis tubulus renalis ini beresiko sangat buruk, yakni mengakibatkan dehidrasi (kekurangan cairan), terjadi kerusakan pada sel-sel ginjal dan gagal ginjal kronis, kelemahan otot, penurunan refleks, dan bahkan kelumpuhan.

Lalu apa penyebab penyakit asidosis tubulus renalis ini??

Penyebab penyakit asidosis tubulus renalis ini belum dapat diketahui secara pasti sampai sekarang. Akan tetapi ditenggarai ada kemungkinan yang dapat menyebabkan asidosis tubulus renalis ini, seperti faktor keturunan, atau bisa timbul akibat obat-obatan, keracunan logam berat atau penyakit autoimun (misalnya lupus eritematosus sistemik atau sindroma sjogren).

Bagaimana gejala penyakit asidosis tubulus renalis?? Apa saja ciri-ciri penyakit asidosis tubulus renalis??

Penyakit asidosis tubulus renalis tida selamanya memunculkan gejala, karena ada pada sebagian kasus yang tidak menimbulkan gejala sama sekali. Bahkan sebagian besarnya hanya akan mengalami gejala setelah dalam jangka waktu yang lama menderita penyakit ini, sehingga penyakit ini cukup sulit untuk terdeteksi. Gejala yang biasa muncul diantaranya adalah :

  • Keasaman darah yang tinggi.
  • Dehidrasi ringan.
  • Kadar kalium yang rendah di dalam darah, sehigga menyebabkan kelemahan otot & kelumpuhan.
  • Tulang menjadi rapuh.
  • Nyeri tulang.
  • Endapan kalsium yang bisa menimbulkan terjadinya batu ginjal.
  • Penyakit ginjal kronis
  • Kadar kalium yang tinggi dalam darah, tetapi jarang menimbulkan gejala, kecuali jika sangat tinggi sehingga bisa menyebabkan gangguan irama jantung & kelumpuhan.


Solusi mengobati penyakit asidosis tubulus renalis dengan obat herbal Jelly Gamat Gold-G

Seperti telah disebutkan dari awal bahwa salah satu cara terbaik mengobati penyakit asidosis tubulus renalis adalah dengan menggunakan obat herbal Jelly Gamat Gold-G, sebab Jelly Gamat Gold-G ini telah teruji secara klinis memiliki khasiat dan manfaat yang sangat baik untuk mengobati berbagai penyakit, bahkan khasiat dan keampuhannya dalam mengobati penyakit telah terbukti secara nyata langsung oleh konsumen Jelly Gamat Gold-G itu sendiri.

Kami merekomendasikan obat herbal Jelly Gamat Gold-G ini sebagai solusi mengobati penyakit asidosis tubulus renalis, karena obat herbal Jelly Gamat Gold-G ini merupakan obat herbal multikhasiat yang bisa dikonsumsi untuk mengobati berbagai penyakit yang mendera. Bahkan obat herbal Jelly Gamat Gold-G ini juga sangat baik dan aman dikonsumsi siapa saja untuk semua kalangan usia, termasuk bayi, anak-anak, ibu hamil dan juga ibu menyusui, karena tidak mengandung bahan kimia berbahaya, yakni 100% terbuat dari bahan alami.
http://www.caracepatmengobatipenyakit.web.id/2015/01/cara-cepat-mengobati-asidosis-tubulus.html

Obat Penyakit Abses


Obat Penyakit Abses dengan obat herbal Ace Maxs dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit abses misalnya, Abses kulit, abses gigi, abses tenggorokan, abses paru paru, abses perut, abses di leher, abses di kepala, DLL. Mengapa kami sangat yakitn akan khasiat Ace maxs untuk menyembuhkan penyakit abses, Karena Ace Maxs terbuat dari bahan bahan alami pilihan yaitu dari perpaduan Kulit Manggis Dan Daun Sirsak.
Obat Penyakit Abses

Penjelasan Singkat Penyakit Abses

Abses adalah kumpulan tertutup jaringan cair, yang dikenal sebagai nanah, di suatu tempat di dalam tubuh. Ini adalah hasil dari reaksi pertahanan tubuh terhadap benda asing. Ada dua jenis abses, septik dan steril. Kebanyakan abses adalah septik, yang berarti bahwa mereka adalah hasil dari infeksi. Septic abses dapat terjadi di mana saja di tubuh. Abses merupakan tahap terakhir dari suatu infeksi jaringan yang diawali dengan proses yang disebut peradangan.

Beberapa Penyebab Umum Penyakit Abses

  • Kulit abses disebabkan oleh flora kulit normal
  • Gigi dan tenggorokan abses disebabkan oleh flora mulut
  • Paru-paru udara abses disebabkan oleh flora normal, bakteri yang menyebabkan radang paru-paru atau TB
  • Perut dan anal abses disebabkan oleh flora usus normal

Tanda Dan Gejala Penyakit Abses

infeksi meliputi kemerahan, bengkak, terlihat jelas (lebih dari 2,5 cm dari letak insisi), nyeri tekan, kehangatan meningkat disekitar luka, warna merah jelas pada kulit disekitar luka, pus atau rabas, bau menusuk, menggigil atau demam (lebih dari 37,7oC/100oF).
https://obatpenyakitabses.wordpress.com/2014/08/13/obat-penyakit-abses/